rahasia golden ratio
fakta sains di balik keindahan yang dianggap mutlak
Pernahkah kita melihat video atau artikel yang membedah wajah selebriti menggunakan garis-garis spiral ajaib? Katanya, wajah yang sempurna itu mengikuti sebuah rumus matematika kuno. Rumus ini diklaim ada di mana-mana. Di lukisan Mona Lisa, di arsitektur kuil Parthenon Yunani, pada cangkang siput, sampai logo perusahaan teknologi raksasa. Angka ajaib itu adalah 1,618. Kita mengenalnya sebagai Golden Ratio atau Rasio Emas.
Selama ratusan tahun, kita diajak percaya bahwa semesta ini punya semacam cheat code untuk menciptakan keindahan mutlak. Sangat menggoda untuk percaya bahwa seni dan alam terikat oleh satu benang merah yang sama. Tapi, mari kita berhenti sejenak. Bagaimana jika saya memberi tahu teman-teman bahwa sebagian besar cerita tentang Rasio Emas ini... adalah sebuah fiksi sejarah yang telanjur kita percayai sebagai kebenaran?
Tentu saja, saya tidak membantah keberadaan matematikanya. Secara murni numerik, Rasio Emas itu nyata. Ia erat kaitannya dengan deret Fibonacci. Coba kita ingat-ingat lagi pelajaran sekolah dulu. Deret angka di mana angka berikutnya adalah hasil penjumlahan dua angka sebelumnya: 1, 1, 2, 3, 5, 8, dan seterusnya. Jika kita membagi satu angka dengan angka sebelumnya, hasilnya akan semakin mendekati angka 1,618.
Pola ini memang sering muncul di alam liar. Kita bisa melihatnya pada susunan biji bunga matahari atau jumlah kelopak bunga mawar. Itu adalah cara alam mengoptimalkan ruang dan pertumbuhan.
Secara psikologis, otak kita sangat mencintai pola. Otak manusia pada dasarnya adalah mesin pencari pola yang luar biasa rakus. Ketika kita menemukan sebuah pola matematika yang seolah menyatukan kerumitan alam dan keindahan seni, kita merasa aman. Kita merasa dunia ini tertata rapi dan bisa dijelaskan. Sangat masuk akal jika kita lantas sangat ingin mempercayai bahwa para jenius di masa lalu sengaja menggunakan rumus ini untuk menciptakan mahakarya mereka. Namun, justru di sinilah narasi tersebut mulai terasa janggal.
Mari kita bertamasya sebentar ke masa lalu. Banyak buku sejarah seni menyebutkan bahwa kuil Parthenon di Athena dibangun berdasarkan Rasio Emas. Kenyataannya? Tidak ada satu pun catatan sejarah atau cetak biru dari zaman Yunani Kuno yang membuktikan hal tersebut. Para sejarawan arsitektur masa kini menemukan bahwa rasio bangunan itu sama sekali tidak pas dengan angka 1,618.
Lalu bagaimana dengan lukisan Mona Lisa atau Vitruvian Man karya Leonardo da Vinci? Da Vinci memang sangat detail mempelajari proporsi tubuh manusia, tapi tidak ada bukti valid ia memuja angka 1,618 dalam catatannya. Lalu, dari mana mitos besar ini berasal? Mengapa kita begitu yakin bahwa keindahan itu rumusnya pasti Rasio Emas?
Jawabannya mengarah pada seorang psikolog dan penulis Jerman dari abad ke-19 bernama Adolf Zeising. Zeising adalah pria yang kelewat terobsesi menemukan tatanan universal. Dialah yang pertama kali mencocokkan Rasio Emas dengan proporsi tubuh manusia, arsitektur purba, dan seni klasik. Masalahnya, ketika seseorang terlalu ingin melihat suatu pola, ia akan memaksa pola itu agar pas dengan realitas. Zeising secara tidak sadar memanipulasi pengukurannya. Ia mengabaikan bagian yang tidak pas, dan melebih-lebihkan bagian yang sekiranya mendekati.
Anehnya, ide Zeising ini meledak, ditulis ulang, dan dipercaya begitu saja selama berabad-abad. Pertanyaannya sekarang, jika mitos ini tidak punya dasar ilmiah yang ketat dalam dunia seni dan desain, lalu apa sebenarnya yang membuat otak kita menganggap sesuatu itu "indah"?
Di sinilah hard science memberikan jawaban yang jauh lebih menarik daripada sekadar dongeng tentang angka mistis. Dalam disiplin psikologi evolusioner dan neurosains, ada sebuah konsep yang disebut cognitive fluency atau kelancaran kognitif. Otak kita pada dasarnya adalah organ yang efisien, alias sedikit pemalas. Ia paling suka memproses informasi yang mudah dicerna, familiar, dan simetris.
Ketika kita melihat wajah yang simetris, otak kita secara evolusioner menganggapnya sebagai tanda genetik yang sehat. Tidak ada hubungannya dengan angka persis 1,618. Bahkan, penelitian modern tentang daya tarik wajah menunjukkan fakta yang mengejutkan. Manusia cenderung lebih menyukai wajah yang merupakan "rata-rata matematis" dari sebuah populasi, bukan wajah yang mengikuti proporsi Rasio Emas yang tajam.
Para matematikawan dan desainer juga telah berulang kali mencoba membedah logo-logo terkenal atau cangkang Nautilus yang selalu menjadi poster boy dari Rasio Emas. Hasilnya nihil. Ketika diukur menggunakan alat ukur presisi tinggi di era modern, proporsi mereka ternyata meleset. Mereka hanya "mirip-mirip sedikit". Selama ini, kita telah terjebak dalam confirmation bias atau bias konfirmasi massal. Kita hanya melihat pola yang memang dari awal ingin kita lihat.
Mungkin sebagian dari teman-teman merasa sedikit kecewa mengetahui hal ini. Kehilangan sebuah mitos romantis tentang rahasia semesta memang kadang terasa tidak menyenangkan. Tapi bagi saya pribadi, fakta ilmiah ini justru sangat membebaskan kita.
Coba pikirkanlah sejenak. Bayangkan betapa membosankannya dunia ini jika seluruh standar keindahan, kecantikan, dan mahakarya seni hanya bisa dieksekusi oleh satu rasio angka yang kaku. Kenyataan bahwa tidak ada satu rumus mutlak untuk keindahan membuat manusia dan alam menjadi jauh lebih kaya.
Keindahan sejati itu sering kali lahir dari ketidaksempurnaan. Ia lahir dari keragaman genetik kita, dari kebetulan-kebetulan di alam, dari evolusi budaya yang terus bergerak bebas, dan dari bagaimana otak kita secara personal memaknai dunia. Tidak adanya cheat code mutlak berarti kita bebas mendefinisikan apa itu seni, desain, dan kecantikan tanpa harus terbelenggu oleh garis spiral khayalan.
Jadi, lain kali jika kita melihat konten yang mencoba meyakinkan kita bahwa ada rumus matematika mutlak di balik wajah yang menawan atau logo yang keren, kita bisa tersenyum simpul. Kita kini tahu bahwa semesta dan pikiran manusia itu jauh lebih kompleks, lebih acak, dan justru karena ketidaksempurnaan itulah... dunia ini jauh lebih indah daripada sekadar angka 1,618.